Ulasan Rudiantara Buka Suara soal Utang First Media dan Bolt

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara mengatakan PT First Media Tbk dan PT Internux (Bolt) telah menyampaikan kesanggupannya untuk membayar tunggakan.

Diketahui, PT First Media Tbk dan PT Internux (Bolt) belum membayar kewajiban BHP frekuensi radio di 2,3 GHz hingga batas waktu yang diberikan pemerintah pada Sabtu (17/11). Selain dua operator tersebut, ada pula PT Jasnita Telekomindo.

Atas tunggakan tersebut, Kemenkominfo tengah menyiapkan SK Pencabutan Izin Penggunaan Frekuensi Radio kepada tiga operator tersebut.

Baca Juga : Harga Wiremehs Semua Ukuran

Namun karena ada komitmen pembayaran, Rudiantara mengatakan pihaknya tengah membicarakan hal itu bersama dengan Kementerian Keuangan. Hal itu untuk mendalami proposal yang disampaikan PT First Media Tbk dan PT Internux.

“Tadi pagi saya terima surat, mereka mau membayar tapi cara membayarnya bagaimana lagi di bahas di sana [rapat],” ujar Rudiantara di Kantor PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia (Persero), Senin (19/11).

Dia memastikan jika operator tersebut mampu melunasi tanggungannya, maka SK Pencabutan Izin Penggunaan Frekuensi Radio bisa dibatalkan.

“Tunggu saja hasil rapatnya, sekarang sedang dibicarakan,” kata Rudiantara.

Rudiantara menjelaskan SK Pencabutan Izin Penggunaan Frekuensi Radio hanya memutuskan izin frekuensi radio. “Kalau First Media tidak hanya menggunakan frekuensi tapi juga kabel TV, jadi kabel TV-nya tidak terganggu. Tapi kalau Bolt kan tidak punya izin yang lain, otomatis tidak bisa jalan,” kata dia.

Artikrl Terkait : Harga Pasir Dan Batu Kali

First Media dan Bolt menunggak kewajiban membayar BHP frekuensi radio di 2,3 GHz untuk tahun 2016 dan 2017. Jumlah tunggakan pokok dan dendanya masing-masing Rp364 miliar, sedangkan Bolt sebesar Rp343 miliar.

Dengan demikian, jumlah tunggakan dan denda BHP frekuensi radio tahun 2016 dan 2017 kedua anak perusahaan Grup Lippo ini sekitar Rp 707 miliar. Sementara, tunggakan dan denda Jasnita sebesar Rp2,19 miliar.

Diketahui, pertemuan antara Kominfo dan Kemenkeu bakal membahas bagaimana kedua perusahaan bisa membayar tunggakan ditambah denda pembayaran keterlambatan sewa frekuensi radio.

Berikut Seperti Roti, Helm juga Punya Batas Kedaluwarsa

Helm menjadi salah satu perlengkapan wajib pengendara sepeda motor. Fungsi helm untuk menghindari cedera serius pada bagian kepala.

Teknik memilih helm yang tepat adalah dengan cara memasukkan satu ruas jari ke sela pipi kiri dan kanan untuk mendapatkan kenyamanan dan pas juga ketika digunakan, helm tidak bergeser ke kiri dan kanan.

Selain tahu cara memilih helm, kita juga harus tahu bahwa helm punya batas kedaluwarsa.
Technical Director NHK Indonesia, Johannes Cokrodiharjo, mengatakan usia pakai helm paling lama hanya dua tahun sejak pertama digunakan. Hal tersebut sudah menjadi ketentuan yang disepakati Asosiasi Industri Helm Indonesia (AIHI).

Baca Juga : Hrarga Seng Gelombang Dan Galvalume

“Artinya, sama seperti sepatu. Sebagus-bagusnya sepatu, karetnya bagus ya itu bisa jebol juga,” ucap Johannes saat ditemui di Jakarta belum lama ini.

Menurut Johannes, helm yang sudah melewati usia pakai dipastikan kualitas busa menipis dan helm terasa longgar saat dipakai.

“Dipakai dua tiga bulan busanya juga sudah mulai kempot terus terasa kasar. Lalu helm berasa longgar, tidak seperti pertama dipakai,” ucap dia.

Namun, ia menyampaikan masih ada solusi jika konsumen tidak ingin membeli helm baru, yaitu dengan cara mengganti seluruh bagian interior dan bisa untuk menggunakan cangkang yang lama.

Artikel Terkait : Harga Plafon Gypsum & Grc

“Solusinya bisa ganti interior, atau ganti dalamnya seperti busa-busanya. Intinya helm memang punya usia pakai, jadi kita tidak bisa gunakan lama, misalnya sampai lima tahun,” tutup Johannes.

Pocophone F1, Harga Murah Performa Gahar Sekelas Flagship Simak Selengkapnya

Sejak awal kemunculannya di Indonesia pada akhir Agustus lalu, Pocophone F1 menjadi barang panas. Hal itu lantaran dengan banderol harga Rp4,5 juta, ponsel ini dibekali cipset Snapdragon 845 yang kerap dipakai ponsel flagship.

Dua ponsel flagship yang sama-sama diotaki Snapdragon 845 yakni Samsung Galaxy S9 yang dibanderol mulai Rp12,5 juta dan Oppo Find X dengan harga Rp13,5 juta. Jadi bisa dibayangkan jika Pocophone F1 masuk dalam kategori barang panas.

Ponsel besutan sub-brand Xiaomi ini hadir dalam dua varian, RAM 6 GB dan ROM 64 GB yang dibanderol mulai dari Rp4,5 juta serta RAM 6 GB dan ROM 128 GB yang dijual Rp5 juta. ROM bisa diperluas dengan kehadiran slot microSD hingga 256 GB.

Baca juga : Harga Polycarbonate

Jika dilihat dari penggunaan cipset, performa jelas menjadi ujung tombak ponsel ini. CNNIndonesia.com berkesempatan mencoba ponsel ini.

Mewah’ menjadi kesan pertama yang muncul ketika menatap Pocophone F1. Namun seketika anggapan itu sirna seketika mulai menggengamnya.

Material punggung ponsel berbahan polycarbonate alias plastik membuat kesan premium hilang dan menjadikannya terasa licin. Setidaknya Poco bisa menambahkan finishing kaca untuk memunculkan kesan premium.

Kendati demikian, bobotnya seberat 180 gram masih terasa nyaman saat dipakai untuk bermain gim selama berjam-jam.

Sebagai catatan, sesungguhnya Poco menghadirkan PocoF1 dengan desain yang lebih mewah dengan bahan Kevlar. Akan tetapi, Anda harus rela merogoh kocek Rp500 ribu lebih mahal dari versi material plastik.

Tak lupa, tren poni lebar juga turut diterapkan untuk ponsel ini. CNNIndonesia.com merasa bagian dagu, bezel kiri dan kanan terasa agak tebal.

Poni lebar ini menyimpan banyak sensor di dalamnya, di antaranya sensor inframerah, face recognition, speaker, dan sensor kamera.

Artikel Terkait : Harga Genteng Beton Dan Metal

Hanya saja, tren poni justru mengurangi ‘kekhusyukan’ saat menggunakan ponsel untuk bermain gim. Secara default, seperempat tampilan dari gim akan terpotong karena aplikasi gim ini mendukung fitur fullscreen akan memenuhi layar. Keresahan bisa sedikit teratasi ketika menonaktifkan mode fullscreen.

Poco F1 memiliki port audio 3,5mm, dua slot kartu SIM hybrid, dan port USB-C. Melihat punggungnya, terdapat dua buah kamera yang disusun vertikal diapit LED flash dan sebuah sensor sidik jari di bagian tengah.

Sentuhan desain lingkaran berwarna merah yang mengelilingi lensa kamera tak dipungkiri patut untuk dipuji.

Seperti yang diketahui, Poco F1 masih mengusung layar yang masih menggunakan teknologi IPS atau LCD. Maka tak heran jika kualitas gambar kalah jauh, terutama dari segi kontras dan keterangan layar dibandingkan ponsel flagship Galaxy S9 dengan teknologi Super AMOLED.

Fan Ungkap Kejanggalan di Kisah ‘Fantastic Beasts 2’ Simak Selengkapnya

Artikel berikut mengandung beberan atau spoiler.

Penggemar Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald tampaknya merasa ada yang janggal dalam film tersebut. Mereka menyebut ada sejumlah data yang tak sesuai dengan pemahaman yang selama ini ada.

Salah satunya adalah tentang kemunculan tokoh Profesor Minerva McGonagall. Fan beranggapan, bila merujuk data yang ada, mestinya Fantastic Beasts 2 tak menampilkan Kepala Asrama Gryffindor itu karena belum ada di dunia.

Baca Juga : Harga Bahan Bangunan

Dalam sebuah adegan di Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald, Profesor McGonagall muda yang diperankan oleh Fiona Glascott muncul setidaknya dua kali.

Pertama, ketika ada orang Kementerian Sihir Inggris memaksa masuk ke kelas Profesor Albus Dumbledore, dan yang kedua ketika menangani ulah Leta Lestrange muda yang diperankan oleh Thea Lamb.

Kemunculan Profesor McGonagall yang sudah membantu Dumbledore tersebut terasa ganjil mengingat latar kisah Fantastic Beasts adalah di periode 1920-an, tepatnya 1927.

Masalahnya, menurut pemahaman fan yang dirangkum dan diamini banyak laman fandom, Profesor McGonagall lahir pada 1935.

Pemahaman Profesor McGonagall lahir pada 1935 disebut berdasarkan penghitungan biografi dirinya di laman Pottermore yang dibuat JK Rowling, dan Bab 15 novel Harry Potter and the Order of the Phoenix yang menyebut ahli Transfigurasi itu masuk bekerja untuk Hogwarts pada Desember 1956.

Sebelum masuk Hogwarts, dalam novel itu, McGonagall disebut bekerja untuk Kementerian Sihir Inggris selama dua tahun begitu lulus dari sekolah. Sehingga, tahun kelulusannya adalah 1954, dan tahun pertamanya adalah pada 1947.

Seperti yang diketahui banyak fan, usia penyihir muda masuk Hogwarts adalah 11 tahun. Di sisi lain, dalam bagian buku yang lain disebutkan ulang tahunnya adalah pada Oktober sehingga Minerva mulai belajar di Hogwarts pada usia 12 tahun.

Atas ketidakcocokan data salah satu tokoh penting dalam kehidupan Harry Potter tersebut, banyak fan mengungkapkan protesnya di media sosial.

“Fantastic Beasts 2 berlatar pada 1927, dan memiliki Minerva McGonagall di usia 20-an mengajar di Hogwarts. Namun menurut Pottermore, Profesor McGonagall adalah lahir pada 4 Oktober 1935. [Film itu] membuatnya jadi Profesor berusia -8 tahun. Keren.” kata akun bernama rohitak.

“Profesor McGonagall muncul di Crimes of Grindelwald delapan tahun sebelum kelahirannya? Apa yang terjadi? Kesalahan atau plot twist?” kata akun MBocort sembari bertanya kepada JK Rowling.

“Ini membunuh saya. Saya butuh jawaban atas pertanyaan soal McGonagall. Saya merasa JK Rowling tak akan membuat kesalahan fatal. Bagaimana ada Minerva ketika dia belum lahir hingga dekade ’30-an? Atau ini hanya perkiraan fan?” kata akun JessickuhHart.

Bukan hanya itu, kejanggalan juga disebut Indy100 terdapat dalam serialnya. Dalam seri asli dicantumkan Profesor McGonagall mulai mengajar di Hogwarts pada 1985.

Artikel terkait : Harga kanopi Minimalis

Padahal, Profesor McGonagall merupakan guru dari orang tua Harry Potter. Potter sendiri baru lahir pada 1981. Sehingga, asumsi sesuai yang paling bisa diterima adalah McGonagall lahir di dekade ’30-an.

Sejumlah netizen kemudian membuat teori lain bahwa “Minerva” yang disebut Dumbledore dalam Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald adalah ibu dari Profesor McGonagall. Namun hal ini dibantah karena ibu dari McGonagall aslinya bernama Isobel yang tidak pernah mengajar di Hogwarts.

Hingga saat ini, JK Rowling belum memberikan tanggapan baik dalam kicauan atau pun di laman resminya terkait pertanyaan yang menggantung di benak penggemar.

‘Melempem’, Respons Saykoji atas Seteru Ben Utomo-Xhaqala Simak Selengkapnya

Rapper Igor alias Saykoji merilis lagu baru bertajuk Melempem lewat YouTube. Mengacu pada lirik, lagu itu merupakan diss track yang ditujukan kepada Gerry Konaedi yang dikenal dengan nama panggung Xaqhala.

“Gua tahu Gerry dan gua tahu dia cinta scene ini. This is good, man, hahaha. Let’s show this kid bagaimana caranya bikin diss track,” ucap Igor di awal lagu.

Sebelum lanjut lebih jauh, mari membahas awal-mula perseteruan antara Ben Utomo dan Xhaqala yang menarik perhatian Saykoji. Perseteruan berawal dari tulisan Xhaqala bertajuk Ketika ‘Battle Rap’ Keseleo di majalah daring HELL MAGZ.

Baca Juga : Harga Handle pintu Minimalis

Dalam tulisan panjang itu, rapper yang tergolong senior tersebut memulai artikel dengan menuturkan tentang MC contest di Amerika pada 1980-an, menyusul mengenai fresstyle battle dan battle rap, sebelum akhirnya sampai di beef battle, di mana dirinya secara spesifik menyindir salah satu acara yang populer di YouTube, yang digagas oleh Ben bersama All Day Music dan menempatkan Saykoji sebagai juri.

Setelah tulisan tersebut keluar, Ben membuat diss track bertajuk Basian, di mana di awal video menampilkan dirinya sedang membicarakan artikel Xhaqala bersama produser bernama Leztey.

Ben jelas mengejek Xhaqala lewat lirik yang ia tuangkan dalam lagu berdurasi dua menit. Mulai dari menyebut Xhaqala kere (miskin) sampai kemampuan rap yang rendah yang diumpamakan seperti anak Sekolah Dasar. Bahkan ia juga menantang Xhaqala untuk membuat diss balik dengan lirik “Silahkan diss balik bitch gue enggak takut”.

Butuh waktu dua minggu bagi Xhaqala untuk menjawab tantangan tersebut. Minggu (18/11) ia merilis lagu Phone Call From Hell lewat kanal YouTube HellHouse Indonesia. Dirinya membalas semua ejekan Ben lewat lirik dalam durasi empat menit kurang.

Artikel terkait : Harga Kusen Cor / Beton

Seperti penggalan lirik berikut:
Skill gua anak SD tapi skill lo cairan
Masih dalam biji ngegelantung di selangkangan

Ia juga sedikit membahas tulisannya sembari mengejek Ben, seperti penggalan lirik berikut:
Gua tulis tentang kalcer (culture)
Dibahas malah iler
Gimana jelasinnya sama orang yang gak pinter

Setelah Phone Call From Hell, Saykoji langsung muncul dengan lagu Melempem. Tidak berlama-lama, ia hanya perlu waktu beberapa jam untuk membuat musik dan lirik sederhana namun menggigit. Berikut penggalan lirik Melempem:

Gua tau netizen suka drama
Jadi gua kasih kagak pake lama
Tampar pipi kiri, nih yang kanan masih tembem
Suka sok sangar tapi liriknya melempem

Sebelum merilis Melempem, Saykoji sempat mengunggah potongan video Phone Call From Hell lewat Instagram. Terlepas dari perseteruan tersebut, Saykoji malah berterimakasih karena skena hip-hop kembali ramai.

“Thank you for this, Ger, scene ini akan makin ramai karena dimulai dari artikel elo,” tulis Saykoji.

Di antara tiga diss track tersebut banyak lirik yang saling berkaitan dan akan panjang bila dijelaskan lewat tulisan. Bila ingin mengerti, sebaiknya dimulai dengan membaca artikel yang ditulis Xhaqala sebelum mendengarkan ketiga diss track secara berurutan.

Lima Barang ‘Wajib’ Bawa di Konser K-Pop Simak Selengkapnya

Tak dapat dielakkan, demam K-pop turut menjangkiti masyarakat Indonesia. Tanpa pandang usia, profesi, atau strata sosial, musik K-pop menyelinap masuk dan mendapat tempat tersendiri di telinga masyarakat Indonesia.

Beragam upaya hadir untuk menunjukkan rasa kagum kepada sang idola, termasuk mendatangi konsernya. Tak hanya datang, para penggemar juga kerap tampil dengan berbagai aksesori terkait sang idola untuk menunjukkan dukungan dan rasa cintanya kala konser berlangsung.

Berikut lima hal yang wajib dipersiapkan saat datang ke konser K-pop seperti konser BLACKPINK di Jakarta, Senin (19/11) kali ini.

Baca Juga : Informasi Harga Triplek

Lightstick

Salah satu keunikan industri musik K-pop, seperti BLACKPINK, dibanding negara lainnya adalah spesifikasi sang idola. Di Korea, tiap boyband atau girlband memiliki warna dan merchandise resmi sendiri termasuk lightstick.

Setiap artisnya memiliki bentuk dan warna lightstick yang berbeda-beda. Misalnya, girlband BLACKPINK yang hadir dengan bentuk lightstick seperti palu namun berbentuk hati dan berwarna hitam dan merah jambu.

Hand-banner

Fan K-pop kerap membawa hand-banner bertuliskan pujian atau sekadar nama bias (anggota yang paling disukai) mereka masing-masing. Hal ini ditujukan agar sang idola melihat dan merasakan dukungan penggemar kepadanya.

Dresscode Khas

Artis K-pop memiliki warna khas sendiri, penggemar kerap menyesuaikan warna tersebut untuk menegaskan identitas mereka sebagai seorang penggemar. Tak hanya soal warna, penggemar biasanya juga menggunakan pakaian bertuliskan nama sang idola.

Bando

Baca Juga : Harga Kabel Listrik

Penggemar musik Korea tampaknya sangat detail memperhatikan setiap aksesori yang dipakai untuk bersua dengan idolanya dari ujung kaki hingga kepala. Hiasan kepala pun tak luput dari perhatian. Bando-bando dengan gambar sang idola biasanya menjadi salah satu bahan wajib untuk dipakai ke konser.

Fan-chant

Fan-chant merupakan seruan yang diteriakkan fan di sela-sela sang artis sedang menyanyikan lagu-lagu mereka. Seruan ini biasanya berisikan nama masing-masing anggota girlband atau boyband tersebut. Namun, fan-chant juga bisa berupa ucapan kagum seperti ‘saranghaeyo’ (aku cinta kamu) atau ‘jjang’ (terbaik) kepada sang idola.

Teriakan ini yang kerap jadi bahan hapalan penggemar sebelum datang ke konser sang idola agar menambah meriah konser.

Cuplikan Wanna One Bantah Dugaan Plagiarisme Konsep Album

Boyband Korea Selatan Wanna One angkat bicara konsep album baru mereka bertajuk 1¹¹=1 (POWER OF DESTINY) yang diduga plagiat dari film musikal Amerika Serikat Hedwig and the Angry Inch.

Berkaitan dengan tuduhan itu, personel Yoon Ji meminta maaf kepada masyarakat.

“Ketika foto konsep Wanna One sedang diproduksi, karya Origin of Love milik Plato digunakan sebagai motif. Tampaknya setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda. Kami mohon maaf karena telah menyebabkan kekhawatiran melalui masalah ini,” jelas Ji Sung dalam konferensi pers yang digelar Senin, (19/11) waktu Korea Selatan, dilansir dari Soompi.

Baca Juga : Harga Keramik Dinding & Lantai

Kontroversi ini bermula sejak Wanna One merilis cuplikan dan logo grup berkenaan dengan album studio pertama mereka 1¹¹ = 1 (POWER OF DESTINY) yang rilis pukul enam sore hari ini, Senin (19/11) waktu setempat.

Masyarakat menyebut konsepnya menyerupai tema dan logo musik Hedwig and Angry Inch.

Pencipta asli serta pemeran utama film karya 2001 itu, John Cameron Mitchell mengunggah kekecewaannya pada 30 Oktober lalu di media sosial.

“(Saya punya) Pikiran kalau lagu Hedwig and The Angry Inch atau Platonis atau Taois yang juga penggambaran dari The Origin Of Love milik Stephen Trask, digunakan oleh boyband K-pop Wanna One,” duga Mitchell.

“Adil saja apabila sebuah mitos kuno digunakan sebagai metafora sebuah band dan para penggemarnya mengindahkannya, tetapi saya sedih berpikiran bahwa manajer mereka merasa perlu untuk meminjam (konsep) begitu gamblang tanpa atribut dan memaparkan mitosnya,” tambahnya.

Artikel Terkait : Harga Besi Beton

Agensi Wanna One, CJ E&M dan Swing Entertainemnt memang mengakui kalau konsep yang dipinjam memang berdasarkan karya Plato.

“Konsep teaser Wanna One didasarkan pada gagasan The Origins of Love yang merupakan salah satu topik yang diperkenalkan dalam simposium Plato. Simbol grup (Wanna One) untuk album ini juga didasarkan pada ide yang sama dan kami menambahkan konsep unik Wanna One bersama dengan ide lain seperti takdir, sistem biner, dan ketidakterbatasan,” jelas agensi.

Agensi dari boyband bentukan acara survival ‘Produce 101’ itu juga menegaskan tak ada pelanggaran hak cipta.

“Selama proses peninjauan sebelum membuat album, kami menegaskan bahwa tidak ada masalah terkait masalah hak cipta karena album ini didasarkan pada ‘gagasan’ yang terinspirasi dari nilai universal yang harus dibagikan oleh semua umat manusia, yang berasal dari konsep filosofis. Asal muasal cinta,” ujar perwakilan agensi.

Lebih lanjut, agensi mengapresiasi karya adaptasi Plato tersebut yang pernah diciptakan sebelumnya.

“Nilai atau ide spesifik itu menjadi populer setelah dipinjam dalam lagu, Origin of Love dalam film musikal Hedwig and Angry Inch. Karena bisa ada banyak interpretasi tentang ide asal cinta, kami juga menghormati ide-ide dari John Cameron Michell, yang menciptakan Hedwig,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Cuplikan Metallica Donasikan Rp1,4 M untuk Kebakaran California

Unit rock Metallica menyumbangkan $100 ribu atau setara Rp1,4 miliar yang diambil dari fondasi amal mereka sendiri untuk membantu usaha pemulihan hutan California yang terbakar hebat beberapa waktu lalu.

Seiring dengan kehancuran yang melanda California, para bintang seperti Dave Grohl dari Foo Fighters dan Lady Gaga menunjukkan simpati dalam berbagai cara seperti menyediakan makanan untuk para petugas pemadam kebakaran.

Baca Juga : Daftar Harga Kaca

Metallica memilih mendonasikan masing-masing $50 ribu kepada dua organisasi yang membantu pemulihan alam sekaligus membantu para korban yang dirugikan.

All Within My Hands Foundation, nama fondasi tersebut mengunggah sebuah foto di akun Facebook, dilengkapi keterangan yang menjelaskan situasi.

“Sungguh menyedihkan bahwa komunitas di California harus kembali mengalami kehancuran di bagian Utara dan Selatan. All Within My Hands mendonasikan masing-masing $50 ribu untuk North Valley Community Foundation dan Los Angeles Fire Department Foundation, dua agensi yang memberi pelayanan untuk para korban di pusat evakuasi dan pihak-pihak lain yang membutuhkan pemulihan,” tulis All Within My Hands Foundation.

Artikel Terkait : Harga Kayu

“Kami ingin mengajak Anda untuk bergabung mendukung mereka yang memerlukan dengan mendonasikan uang, makanan kalengan, pakaian dan kebutuhan lain, atau memberikan waktu Anda atau tempat berlindung sementara. Sekecil apapun akan membantu,” lanjut tulisan tersebut.

Kebakaran California ini disebut yang lebih besar daripada yang terjadi di Taman Griffith pada 1993.

Saat ini, kebakaran tersebut memaksa 50 ribu penduduk mengungsi, ribuan bangunan hancur, ratusan orang dievakuasi dan setidaknya 63 orang meninggal dunia.

Simak Wanna One Buka Suara Soal Perpanjangan Kontrak

Para penggemar grup idola Wanna One tampaknya mesti menunggu lebih lama soal nasib nasib kesebelasan personel di industri musik Korea Selatan itu.

Salah satu personel Wanna One, Ha Sung Woon menegaskan belum ada pembicaraan tentang kontrak.

“Kami belum membicarakan tentang perpanjangan kontrak kami. Kami sedang berusaha keras untuk album saat ini,” jelas Sung Woon dalam konferensi pers yang digelar Senin, (19/11)

Baca Juga : Harga Besi kolom
Ia menambahkan kalau ia begitu mencintai dan merasa banyak belajar dari boyband yang membesarkan namanya.

“Saya suka bisa tampil di banyak tempat berbeda saat menjadi bagian dari Wanna One. Saya telah berkembang dan bertumbuh pesat dibandingkan ketika saya masih menjadi peserta pelatihan,” kata Sung Woon.

“Saya pikir pengalaman ini adalah hal yang paling membuat saya bertumbuh,” lanjutnya.

Personel lain dari boyband bentukan acara ‘Produce 101 Season 2’ itu, Lee Dae Hwi juga berkomentar senada dengan Sung Woon.

“Terlalu dini untuk membicarakan tentang akhir. Saya tidak berpikir kita sedang dalam tahap membicarakan tentang akhir. Belum ada yang secara khusus dibicarakan,” kata Dae Hwi.

“Kami akan membicarakan hal ini setelah kami selesai mempromosikan album dan kegiatan studio kami mengenai album ini,” lanjutnya, dikutip dari XportNews via Naver.

Kontrak Wanna One dengan pihak agensi CJ E&M dan Swing Entertainment memang masih menjadi tanda tanya terkait kelanjutannya.

Baca juga : Harga Semen Mortar

14 November lalu, agensi Wanna One sempat buka suara soal kabar burung adanya penyelenggaraan konser final yang akan digelar 25-27 Januari 2019 mendatang.

Penyelenggaraan konser tersebut sempat menimbulkan rumor bahwa Wanna One akan memperpanjang kontrak dari yang seharusnya berakhir pada 31 Desember 2018 ini.

“Konser pada Januari tahun depan hingga kini belum final. Perpanjangan kontrak Wanna One masih dalam tahap diskusi. Belum ada yang disepakati,” demikian pernyataan Swing Entertainment

Wanna One akan merilis lagu baru berjudul ‘Spring Breeze’ hari ini pukul enam sore waktu Korea Selatan (19/11). Lagu tersebut merupakan bagian dari album studio pertama mereka bertajuk “1¹¹=1 (POWER OF DESTINY)”

Aktor Taron Egerton Ingin Tinggalkan ‘Kingsman’ Simak Selengkapnya

Aktor Taron Egerton yang memerankan Gary ‘Eggsy’ Unwin mungkin saja tak turut berperan dalam prekuel film Kingsman. Namun bukan berarti dirinya tak tahu apa-apa soal lanjutan kisah agen rahasia Inggris tersebut.

Egerton, yang menjadi tokoh utama dalam dua film awal Kingsman, membocorkan sedikit cerita dari Kingsman 3, yang juga menjadi jawaban mengapa ia tak terlibat di dalamnya.

Dilansir dari Ace Showbiz, kala berbincang dengan Yahoo, Egerton mengungkapkan bahwa Kingsman 3 memiliki alur cerita yang tak berhubungan dengannya, dengan latar belakang 100 tahun lalu.

Baca Juga : Harga Granit marmer 60×60

“Bahkan di semesta Kingsman, di mana semuanya mungkin, kecuali kita bisa mengembangkan mesin waktu, saya tak akan mungkin berada di dalamnya. Ide film ini sangat keren. Ia lebih bercerita tentang kisah asli, seperti [Kingsman] yang pertama,” tutur Egerton.

The Great Game, yang telah diputuskan menjadi judul Kingsman 3, direncanakan menuturkan kisah grup intelijen rahasia ini di era awal 1900-an.

Aktor Ralph Fiennes disebut terlibat di dalam film yang akan disutradarai oleh Matthew Vaughn ini.

Bagaimanapun, Egerton menegaskan masih ada kemungkinan dirinya kembali berperan dalam seri Kingsman.

“Saya punya kontrak yang ‘memaksa’. Tetapi saya sangat bangga dengan hubungan saya bersama Matthew Vaughn. Saya bangga terhadap film ini. Apapun itu, saya akan dengan senang hati kembali dan menyelesaikan satu lagi,” ungkap Egerton.

Setelah itu, aktor 29 tahun tersebut mempertimbangkan untuk mengambil rehat. “Dan setelah itu, saya berpikir untuk mundur sejenak. Rasanya saya sudah habis-habisan di usia 20-an,” katanya.

“Saya tidak tahu apakah itu [bermain di Kingsman] tepat untuk usia 30-an, karena menurut saya karakter saya [sebagai Eggsy] sangat remaja. Dan jika dia [Eggsy] akan kembali lagi, saya rasa dia juga harus sedikit lebih tua,” lanjut Egerton yang juga akan muncul dalam film Robin Hood mendatang.

Artikel terkait : Harga Paku Beton, Sekrup

“Saya rasa akan lebih menarik kalau saya pergi sejenak lalu kembali lagi. Kingsman selalu beregenerasi, saya pikir ada cukup banyak kehidupan di dalamnya dan akan sangat menyenangkan untuk bisa bereksplorasi dari sisi lain dan menjadi mentor untuk orang baru, misalnya,” ucapnya.

Dengan perkataan yang nyaris terasa terselubung, sukar untuk mengetahui jika Egerton memberi bocoran atau benar-benar mengungkapkan isi hatinya. Namun lanjutan Kingsman dilaporkan akan memulai proses syuting pada Januari 2019 dengan tambahan beberapa karakter baru dari The Great Game yang diperkenalkan di Kingsman 3.